REGSOSEK ,WILLIEM TOREN ,GURITA DAN DAGING RUSA

Boat yang kami tumpangi memasuki selat kecil. Selat yang
memisahkan Pulo Breuh dan Pulo Nasi. Boat yang tadinya berlayar
kencang, kini mulai sedikit melambat, pertanda akan segera
merapat. Dari kejauhan, dermaga Gugop sudah terlihat. Di
seberangnya juga ada dermaga Seurapong. Boat kayu terus melaju.
Dari atas boat, saya dan Pak Ekomenikmati keindahan bentangan
pasir putih keemasan yang membentang sepanjang
Lampuyang hingga Ulee Paya.

Perjalanan laut hari ini, Selasa, 1 November 2022 terasa asyik dan
nikmat. Laut tenang nyaris tak berombak. Boat yang kami
tumpangi ini tidak ada kelas-kelasan. Tidak ada juga kursi-kursi. Semua
bebas. Mau selonjoran bisa, mau tidur boleh, mau jalan-jalan juga tak
masalah. Duduk di mana saja bisa, asalkan jangan dekat kemudi; bisa
mengganggu pawang dalam mengendalikan arah tuju.

pulau di sebelah barat Pulau Sumatera. Terdapat dua pulau utama di Pulo Aceh, yaitu Pulo Breuh
dan Pulo Nasi. Selebihnya adalah pulau-pulau kecil tanpa penghuni. Meskipun secara teritorial
lebih dekat ke Banda Aceh, tetapi secara administrasi masuk ke Kabupaten Aceh Besar.

Empat orang bule yang juga seperjalanan dengan kami bersiap-bersiap melompat naik ke
dermaga. Setelah turun dari boat, kami menjumpai pawang untuk membayar ongkos.
Ongkosnya cukup terjangkau, hanya Rp. 30.000 saja untuk seorang penumpang. Ongkos ini baru
naik harganya dalam beberapa bulan terakhir.Sebelumnya hanya Rp. 25.000. “Kenaikan ini
untuk menyesuaikan dengan kenaikan harga BBM,” kata Pawang. Jangan berharap tiket. Tidak
ada tiket apalagi asuransi perjalanan.Setiba di dermaga, kami disambut oleh Ismi.
Ismi adalah salah satu tokoh pemuda Pulo Breuh yang direkrut BPS sebagai petugas lapangan
Registrasi Sosial Ekonomi Nasional. Ismi turut membawa sepeda motor rentalan yang sudah kami booking sehari sebelumnya. Biaya rental sepeda motor juga cukup
ramah di kantong. Seratus ribu rupiah untuk seharian. Ismi merupakan salah
seorang yang berhasil lulus dari seleksi terbuka yang dilakukan BPS Aceh
Besar untuk merekrut petugas Regsosek.

Regsosek ini adalah programnasional yang digagas oleh beberapa
kementerian/lembagayang pelaksanaan
lapangannya dipercayakan kepada BPS. Pendataan
ini bertujuan untuk mendapatkan profil demografi penduduk, data
perumahan, sanitasi, pendidikan,kesehatan, program perlindungan
sosial, dan kepemilikan aset. Cakupannya adalah seluruh penduduk
di Indonesia. Jadi, kita semua sudahpasti harus terdata.

Setelah melepaskan penat sejenak di warung kopi tepian dermaga,
selanjutnya kami diajak ke Gampong Lampuyang. Jaraknya sekitar empat
kilometer dari pelabuhan Gugop tempat kami mendarat. Setiba di
Lampuyang, kami menjumpai tim yang sedang melakukan pendataan
Regsosek. Ada tiga ‘Srikandi Pulo’ yang kami jumpai, yaitu Syakban, Maisura
dan Asmaul Husna. Dua nama terakhir adalah petugas pendataan lapangan,
sedangkan Syakban adalah ketua tim atau PML yang mendampingi keduanya.

Selesai ‘menjenguk’ petugas, dan waktu sudah memasuki azan magrib,
kami menuju penginapan milik Badan Pengelola Kawasan Sabang (BPKS).
Penginapan lumayan untuk Pulo Aceh.Bagi Anda yang hendak ke Pulo Aceh,
penginapan ini salah satu penginapan yang direkomendasikan.

Selain penginapan BPKS juga terdapat beberapa penginapan yang
diusahakan oleh BUMG desa. Ada Meurandeh Guest House di
Gampong Ulee Paya, ada juga Guest House milik BUMG Gampong Gugop.
Kedatangan saya kali ini ke Pulo Aceh adalah dalam rangka supervisi
pendataan Regsosek sekaligus mendampingi Pak Eko Wahyono,
Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dari Jakarta yang
edang mengadakan penelitian entang proses binis pelaksanaan
Regsosek dengan lokasi di Aceh Besar.

Sebelumnya, Pak Eko sudah mewanti-wanti kepada saya agar
memilih wilayah studi yang bagus.’Bagus’ di sini maksudnya adalah
lokasi yang menggambarkan kerasnya perjuangan petugas
Regsosek dalam memperoleh data.Saya tawarkan beberapa kecamatan,
baik yang dekat maupun jauh dari ibukota kabupaten. Begitu saya
ceritakan kondisi geografis Pulo Aceh, Pak Eko langsung tertarik dan
mengatakan “Saya ke Pulo Aceh saja dahulu. Saya
ingin merasakan perjuangan teman-teman petugas di
sana. Saya ingin mendapatkan feel itu.”

Awalnya saya agak ragu dengan keinginan beliau, apa benar mau ke
sana mengingat medan dan moda transportasi yang terbatas dan jauh
dari hingar-bingar kota. Keinginan kuat Pak Eko ke Pulo Aceh akhirnya
menang melawan keraguan saya.

Pada hari kedua, Pak Eko sang doktor sosiologi berumur 34 tahun
ini, mewawancarai petugas mengenai motivasi dan pengalaman
yang didapatkan selama menjadi petugas Regsosek. Pak Eko juga
menanyakan sudah berapa lama menjadi mitra BPS. Di antara mereka
ada yang sudah bermitra hampir sepuluh tahun dengan BPS. Ada juga
yang pertama kali menjadi petugas.

Pak Eko juga menitip pesan kepada petugas agar dapat
melaksanakan tugasnya dengan baik dan benar agar data yang diperoleh
dapat digunakan oleh pemerintah untuk merumuskan berbagai
program dan penerima maanfaatnya tepat sasaran.

Selain mewancarai petugas,Pak Eko juga berdiskusi panjang
lebar dengan beberapa tokoh masyarakat Pulo Aceh, salah satunya
adalah Abdul Rasyid atau lebih dikenal dengan Pawang Rasyid.
Pawang Rasyid menjelaskan sejarah Pulo Aceh dari sebelum sampai
sesudah musibah tsunami. Pawang Rasyid juga menjelaskan proses
bangkitnya masyarakat Pulo Aceh setelah tsunami. Secara pribadi ia
berharap pemerintah dapat terus memperhatikan Pulo Aceh, baik dari
segi infrastruktur maupun pengembangan sumber daya alam.
Sehingga, bisa memberikan nilai tambah bagi masyarakat Pulo Aceh
dan Aceh pada umumnya. Seperti biasa, setiap pertama
kali menginjak kaki di suatu tempat,tentu harus ada sesuatu yang
dikenang untuk dibawa pulang.

Semua tempat pasti mempunyai sesuatu yang menarik bagi para
pendatang, konon lagi pada kedatangan yang pertama kali.

Diam-diam,ahli sosiologi jebolan IPB ini.Pak Eko menanyakan kepada saya lokasi mercusuar wiliem Toren dan acara supaya  sampai disana.Kemudian,saya menjelaskan sekilas tentang menara suar itu.jadilah hari itu Pak Eko mengujungi Wiliem Toren.

Wiliem Toren adalah ,menara suar yang dibagun pada tahun 1875 ketika masa pendudukan Belanda menara yang tingginya 85 meter ini berlokasi  di Gampong Meuligge.sebelah utara  Pulo Breuh jaraknya sekitar 25 kilometer dari penginapan BpKS lampuyang sampai saat ini menara tersebut masih aktif  memadu perjalanan kapal yang melewati selat malaka.Menara suar Wiliam toren adalah salah ikon yang menjadi kebanggaan masyarakat Pulo aceh.

Malamnya, Pak Eko mencicipi gurita masak Aceh yang kami pesan dari
rumah warga. Di Pulo Aceh memang tidak ada rumah makan. Bagi para
pengunjung dapat memesannya pada rumah-rumah warga.
Keuntungan lain memesan dari rumah warga, selain rasa dan porsi
nya yang rumahan, kita juga telah turut membantu perkonomian
mereka.Pak Eko tidak sendirian. Ada Badrun
Susantyo, sebagai team leader-nya.Karena sesuatu hal, Pak Badrun
menyusul tiga hari setelah kedatangan Pak Eko.
Setelah mengunjungi Pulo Aceh, Pak Eko dan Pak Badrun mengunjungi
petugas di Kecamatan Lhoong. Kunjungan ke Lhoong ini turut
didampingi oleh kepala BPS Aceh Besar, Bapak Irnanto. Untuk menuju
keKecamatanLhoong membutuhkan waktu sekitar satu
jam dari Banda Aceh dengan jaraktempuh sekitar 55 kilometer.
Setelah melintasi dua gunung,Gunung Paro dan Gunung Kulu dan
jalan yang berliku-liku sampailah Pak Eko dan Pak Badrun di Kecamatan
Lhoong. Di Lhoong, Pak Eko dan PakBadrun juga mewawacarai petugas
dan responden.

Seupulang dari Lhoong kammengajak mereka menikmati kuah
chue. Chue adalah sejenis siput yanberwarna hitam dan ujung runcingChue bisanya dimasak bersamdengan dengan kuah pliek.Keesokan harinya, Jumat, November 2022, Para peneliti BRIN
ini mengunjungi petugas dGampong Panca di Kecamatan Lembah Selawah. Pada saaberkunjung ke Kecamatan LembahSelawah, Pak Eko dan Pak Badrunjuga mencoba mencicipi daginrusa.

Lengkap sudah. Saya rasa, saya dan Pak Badrun, sudah merasakan ‘feel’
yang selama ini dicari. Mulai tantangan alam hingga godaan
masakan.Kita berharap dengan adanya penelitian dilakukan oleh BRIN ini,
narasi tentang pelaksanaan Regsosek dapat menggema hingga ke
mancanegara, baik melalui tulisantulisan populer maupun jurnal-jurnal
ilmiah.Sehingga perjuangan BPS tidak hanya tersaji dalam bentuk
angka saja tetapi juga dapat dalambentuk cerita dan rasa.

Mustafa Ibrahim Delima
(BPS Kabupaten Aceh Besar)