Selalu Ada Kali Pertama
Tidak pernah terbayangkan sebelumnya bahwa pekerjaan ini akan menjadi sesuatu yang kunikmati. Kukira bekerja di kantor adalah tentang melawan kebosanan dan menggerus hati karena terkubur rutinitas. Nyatanya tidak, nyatanya setiap hal yang dijalani memunculkan makna dan kesan. Kali pertama menjadi petugas, kali pertama menjadi pengawas, kali pertama melintasi daerah sulit penuh tantangan. Setiap sesuatu memiliki kali pertama.
Awal September kemarin kulalui jalanan perbukitan yang meliuk seperti punggung naga, seorang diri. Saat itu adalah kali pertama diberi amanah menjadi petugas pengawas lapangan kegiatan SUSENAS MKP dengan wilayah tugas di salah satu kecamatan yang berjarak kurang lebih 26 kilometer dengan pusat kota. Melalui jalanan yang sepi dengan jurang di sisi kanan dan kiri, menyusuri rumah-rumah kayu yang perlahan menghilang dan berganti dengan berhektar-hektar hamparan kebun sawit serta beberapa perusahaan industri, bertemu truk lintas kota yang melaju dengan cepat, berkendara dalam keadaan takut dan khawatir jika ban bocor atau tidak ada sinyal untuk menghubungi siapapun, akhirnya ketegangan itu berakhir setelah 50 menit perjalanan. Dan disinilah lokasi yang dituju, Dusun Suka Maju, Kecamatan Sultan Daulat.
Pertama kali kulalui kecamatan ini, tepatnya ketika mobil travel membawaku dari Banda Aceh menuju Subulussalam di hari penempatan. Kecamatan Sultan Daulat menjadi kecamatan terujung di Subulussalam yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Aceh Selatan. Sepanjang jalan Aceh Selatan kulalui dengan tenang sambil menikmati hamparan laut di sisi kanan jalan. Namun ketenangan itu berubah ketika pemandangan berubah menjadi rentetan gunung dengan embun pagi yang disirami cahaya mentari. Jalanan mulai menanjak mengikuti kontur bumi, perbukitan naik dan turun, sawit terbentang sepanjang jalan. Sungai dengan permukaan yang luas memisahkan dua daratan. Jembatan besar menggabungkan kedua daratan sehingga mobil dan motor leluasa menyebrangi sungai yang mengalir dengan tenang. Pada aliran sungai, terlihat satu dua perahu membawa buah sawit yang sudah dipanen. Beberapa perahu lain berlalu lalang, menepi pada sisi-sisi daratan yang menempel dengan rumah-rumah warga. Ya, rumah-rumah warga.
Sempat kuperhatikan bagaimana kesibukan di pesisir sungai saat itu. Rumah-rumah bernuansa rumah panggung dengan bahan kayu dan perahu merapat ditepiannya. Sepertinya perahu menjadi penting bagi masyarakat disitu.Sempat kupikirkan dan ingin sekali kutanya, bagaimana masyarakat disana bertahan hidup dengan kondisi seperti itu? Apa yang mereka lakukan sehari-hari, apakah nutrisi dan kebutuhan makanan tercukupi? bagaimana kondisi kesehatan masyarakat di pinggiran sungai? Namun tak kutemui penjelasan saat itu. Hingga berbulan-bulan kemudian, akhirnya kutemui penjelasan dari kondisi itu ketika mengunjunginya lagi.
Rombongan kantor menuju rumah seorang mitra untuk silaturahmi. Kami menuju sebuah rumah yang melintasi sungai besar tersebut dan akhirnya kukenali nama sungai itu. Lae Soraya namanya. Sungai yang menjadi sumber penghidupan bagi warga di sekitarnya itu mengalir dari Kabupaten Aceh Tenggara, melintasi Kota Subulussalam, hingga bermuara di Kabupaten Aceh Singkil. Sungai yang ketika debitnya mengering, anak-anak bisa bermain di sekitarnya namun ketika meluap mampu menutupi jalan dan membanjiri beberapa dusun di sekitarnya. Pantas saja bentuk rumah disekitarnya dibuat menyerupai rumah panggung, memang begitulah cara untuk menyiasati banjir yang datang.
Waktu berlalu dan sempat terlupa analisis sederhana tersebut, tetapi Susenas MKP datang seakan menjawab pertanyaan yang menyeruak saat itu. Susenas MKP menangkap kondisi perumahan dan kesehatan masyarakat. Maka, dengan semangat yang terpatri setelah menyadari kesempatan itu, kulajukan motor untuk mendatanginya.
Petugas lapangan sudah siap di tempat yang kami janjikan. Dengan sontak beliau tercengang melihatku datang seorang diri dari kota. Namun, belum menyampaikan kalimat apapun, kami bergegas turun ke lapangan. Akhirnya kususuri satu demi satu rumah penduduk di hamparan sungai Lae Soraya. Akhirnya kutapaki tanah lembab dengan bau amis sungai yang segera membanjiri penciuman. Kulihat satu persatu rumah kayu yang saling berdempetan di sepanjang sisi aliran sungai yang terdampar luas. Ibu-ibu berkumpul di teras rumah, saling berbincang satu sama lain. Anak-anak berlarian di tepi sungai yang mengering, bermain di sisi perahu yang terikat tali. Lorong-lorong bawah rumah yang kosong dan lembab. Bahasa daerah dengan nada yang khas menjadi pengisi ruang dengar sedari awal turun lapangan. Akhirnya pertanyaan terjawab dan mungkin akan semakin terjawab jika kita melihat hasil dari data Susenas MKP. Petugas lapangan sudah sampai di rumah terujung pada tepi sungai ketika mentari sudah mulai turun. Bersegera untuk mengakhiri kegiatan dan melakukan ishoma, kami melaju menuju tempat pertama berkumpul.
Pendataan yang lancar. Pengawasan yang lancar. Perjalanan yang lancar. Hal yang kuingat dari petugas lapangan adalah penjelasannya mengenai Lae Soraya dan masyarakat disekitarnya. Kuingat pula pesannya sebelum aku kembali ke kota, “cukup ini saja perjalanan yang dilakukan seorang diri kemari ya buk, besok-besok lebih baik tidak sendiri.” Memang kucoba beranikan diri saat itu karena tidak enak memaksa pegawai lain dengan pekerjaan kantor yang padat. Tetapi petugas lapangan itu benar, setelah jalan berbukit ini kulalui, memang ku simpulkan bahwa jalan ini bukan untuk dilalui seorang diri.
Selalu ada kali pertama. Momen pertama yang melahirkan pembelajaran. Momen yang membuat kesempatan selanjutnya menjadi lebih terencana karena belajar dari kelebihan dan kekurangan yang ada pada momen pertama. Pembelajaran yang membuat kita semakin tangguh dari waktu ke waktu. Semakin kuat dari satu perjalanan ke perjalanan lainnya. Semakin siap menjalankan peran dan menunaikan amanah dalam kegiatan. Ya, kapan lagi kesempatan untuk bertumbuh seperti ini datang pada kita? Kapan lagi kalau bukan saat ini? Selalu ada kali pertama, selalu ada waktu untuk belajar dan bertumbuh. Menjadi seseorang yang semakin mengenali dirinya, semakin mengasah potensinya, semakin menyadari keterbatasannya, semakin berkontribusi untuk sesama. Alhamdulillah.
Suciarti Pertiwi
(BPS Kota Subulussalam)

Leave a Reply